Jumat, 04 Juli 2014

SitusRingin Budho (Situs Mbah Budho)



Situs Ringin Budho merupakan situs yang terletak di pusat Kecamatan Pare, tepatnya di Desa Mangunharjo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

 

Menuju ke Situs Ringin Budho (Situs Mbah Budho)

 

       > Dari arah Kota Kediri, arahkan kendaraan ke arah Pare. Dalam perjalanan kita akan melewati Situs Sumbercangkring, Situs Calon Arang, Komplek Candi Tondowongso, Candi Gurah,  Candi Adan - Adan (Candi Gempur).
  >  Pada perempatan lampu merah pertama di Pare dimana terdapat Monumen Garuda di tengah jalan. Jika ingin ke Candi Tegowangi, silahkan belok ke kiri dan ikutilah papan petunjuk yang ada. Belok kanan jika ke Situs Ringin Budho. Dari sini lurus saja sejauh dua kilometer hingga ujung jalan. Situs berada di kanan jalan dalam kawasan Alun - alun
(Tamrin) Pare.
          >   Jika naik kendaraan umum, dari Kota Kediri, silahkan naik angkot ke Pare dan turun di Pasar Pare. Dari Pasar Pare, silahkan jalan kaki sejauh dua ratus meter. Jika naik bus, dari arah Kota Kediri silahkan turun di perempatan Monumen Garuda, dari sini bisa naik angkot atau becak.


Dibawah Pohon Beringin

            Situs Ringin Budho sendiri berada dalam kawasan Alun - alun (Tamrin) dan berada tepat di tepi jalan. Sebenarnya, situs ini akan terlihat dari jalan raya jika tidak tertutup oleh banyaknya pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar situs. Sesuai namanya, Situs Ringin Budho sendiri berada dalam naungan sebuah pohon beringin dan berada dalam pagar yang di cat merah.

Arca – Arca Situs Ringin Budho (Situs Mbah Budho) Tampak Belakang

            Situs Ringin Budho merupakan sebuah situs yang terdiri dari dua buah arca, satu buah arca Ganesha dan satu buah arca dwarapala dimana keduanya dalam kondisi disemen untuk menghindari pencurian.. Dengan adanya arca Ganesha menjelaskan bahwa situs ini merupakan peninggalan era Hindu dan Arca Ganesha inilah yang disebut oleh masyarakat sebagai Mbah Budho
Saya sendiri kurang tahu apakah kedua arca tersebut insitu atau merupakan arca pindahan dari tempat lain. Seorang juru kunci dari Candi Surowono pernah memberitahu bahwa arca - arca tersebut berasal dari Candi Surowono walau beliau sendiri masih kurang yakin.
Ganesha dan Dwarapala
            Arca Ganeshanya sendiri dalam keadaan baik dan mudah dikenali dengan kepala gajahnya yang masih utuh ditambah berperut buncit. Keadaan arca ini bisa dibilang nyaris sempurna. Sayangnya, bagian atas kepala arca (mahkota arca) sudah rusak.

Arca Ganesha ini sendiri duduk di atas teratai (sudah tidak kelihatan karena ditanam di dalam tanah) dengan sikap duduk kedua kakinya bertemu yang disebut dengan uttkutikasana. Arca Ganesha ini memiliki empat buah tangan dimana tangan kanan yang dibelakang membawa tasbih sedangkan tangan kanan yang didepannya membawa gading yang patah. Tangan kiri belakangnya membawa kapak yang sekarang bentuknya sudah tidak jelas lagi karena rusak. Sedangkan tangan kiri depannya membawa mangkuk yang dihisap oleh belalai Ganesha.
 

Arca Dwarapala

Sedangkan arca dwarapalanya sendiri dalam kondisi yang mengenaskan dengan bagian kepala yang sudah terpotong serta telapak tangan kanan dan kiri juga sudah rusak. Arca dwarapala ini bisa dibilang unik karena memiliki rambut yang bisa dibilang lurus dengan ujung yang bergelombang serta memiliki sikap duduk dengan kaki kanan bersila dan kaki kiri ditekuk ke atas serta tangan kanan membawa gada.
Arca dwarapala sendiri sebenarnya ada dua buah dan biasanya digunakan untuk menjaga pintu suatu bangunan. Jika memang situs ini insitu, apakah ada bangunan keagamaan disekitar daerah ini dan jika eksitu, bangunan apakah yang dijaga arca dwarapala ini ?

Tempat Jualan

Berdasarkan informasi teman saya, katanya ada dua pohon beringin di Situs Ringin Budho dan satu pohon diantaranya pernah terbakar. Saat kebakaran ini, konon terdapat lebih dari dua arca dan arca - arca inipun raib di tengah kegaduhan tersebut. Dan sekarang yang tersisa hanyalah arca Ganesha dan arca dwarapala saja.

Arca – Arca Situs Ringin Budho (Situs Mbah Budho)

Situs Ringin Budho sendiri masih digunakan untuk menepi dan mengalap berkah hingga sekarang. Hal ini terbukti dengan adanya bunga - bunga segar saat saya berkunjung kemari bersama mas Deni Cahyo Nugroho. Ya,mungkin saat larut malam memang digunakan untuk nenepi, tapi pada pagi hingga malam harinya digunakan sebagai tempat berdagang. Bagian dalam pagarpun terdapat meja kursi untuk tempat makan.

Kerajaan Majapahit
Dengan minimnya informasi, dari zaman Kerajaan apa arca - arca yang ada disinipun kurang saya mengerti, namun jika dilihat berdasarkan letaknya yang berdekatan dengan Candi Tegowangi dan Candi Surowono kemungkinan arca - arca di Situs Ringin Budho berasal dari zaman Kerajaan Majapahit. Dari pamflet pariwisata Kabupaten Kediri tertuliskan berdasarkan ikonografinya, Arca di situs ini berasal dari Kerajaan Majapahit. Saya sendiri kurang paham mengenai ikonografi ini, karena di pamflet tersebut juga tidak dituliskan detailnya.

Arca Ganesha Mbah Budho

Walau masuk dalam pamflet pariwisata Pemkab Kediri, sepertinya tak membuat situs ini diperhatikan. Padahal, arca Ganesha di situs ini merupakan satu - satunya arca Ganesha dalam kondisi yang masih bagus dibanding  semua arca Ganesha yang ada di Kediri, baik Kota maupun Kabupaten, baik yang masih insitu maupun yang ada dalam Museum Bhagawanta Bahri maupun Museum Airlangga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Sumber : http://sebuah-dongeng.blogspot.com/2011/12/situs-ringin-budho-situs-mbah-budho.html

Kesehatan

Kecamatan Pare memiliki beberapa sarana kesehatan, yaitu:
  • RSUD Kediri, di Desa Pelem
  • RS HVA Tulungrejo, di Desa Tulungrejo
  • RSIA Nur Aini, di Desa Tulungrejo
  • Brata Medika, di Desa Tulungrejo
  • Puskesmas Pare, di Desa Bendo
Pare terutama Desa Pelem dan Tulungrejo juga dikenal mempunyai potensi pengembangan kursus Bahasa Inggris. Saat ini lebih banyak bermunculan berbagai jenis bimbingan belajar terutama kursus-kursus Bahasa Inggris. Lebih dari 150 buah lembaga bimbingan belajar menawarkan kursus Bahasa Inggris dengan program program D2, D1 atau short course berdurasi 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan, dan 6 bulan, Kampung Inggris sangat ramai terutama pada waktu liburan semester. Tidak hanya kursus bahasa Inggris di Kampung Inggris juga tersedia lembaga kursus yang membuka program kursus bahasa Arab, Jepang, Mandarin, Korea, dan kursus bahasa Prancis. Dalam hal ini, kota Pare sebagai pusat belajar Bahasa Asing yang murah, efisien dan efektif sudah terkenal hingga keluar Pulau Jawa. Sebagai efek ikutannya, di daerah Tulungrejo sekarang muncul berbagai jenis tempat penginapan dan kost yang menampung para pelajar dan maupun pekerja. Tarif kos per orang bervariasi dari 50 ribu hingga 200 rb per bulan.

Sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Pare,_Kediri#Kesehatan

Tempat Wisata

Kecamatan Pare memiliki beberapa tempat wisata, yaitu:
  • Masjid An-Nur Pare, di Desa Tulungrejo
  • Garuda Park, di Desa Pelem
  • Stadion Canda Birawa, di Desa Pelem
  • Kampung Inggris, di Desa Pelem dan Desa Tulungrejo
  • Taman Kilisuci, di Desa Tulungrejo (Sebelah Barat Masjid An-Nur Pare)


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pare,_Kediri#Tempat_Wisata

Lokasi Kota Pare

Pare terletak 25 km sebelah timur laut Kota Kediri, atau 120 km barat daya Kota Surabaya. Pare berada pada jalur Kediri-Malang dan jalur Jombang-Kediri serta Jombang - Blitar. Sudah lama ada wacana Pare dikembangkan menjadi ibu kota Kabupaten Kediri, yang secara berangsur-angsur dipindahkan dari Kota Kediri. Namun niat ini tidak pernah serius dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten atau para Bupati yang menjabat. (mulai era Bupati H. Sutrisno, Wacana tersebut akhirnya benar-benar dibatalkan, karena akan mendapatkan protes dari warga di sebagian wilayah Kabupaten Kediri, terutama di daerah selatan-seperti Kras, Ngadiluwih, Kandat dan Ringinrejo dan di daerah barat sungai Brantas-seperti tarokan, Grogrol, Banyakan, semen dan Mojo. Sehingga diambil jalan tengah dengan menempatkan Pusat pemerintahan di wilayah Kec. Ngasem Kediri, tepatnya di Ds. Sukorejo (biasa disebut Katang) dan akan juga dibangun Pusat Bisnis di Wilayah Kota Baru Gumul.)

 

Sumber :  http://id.wikipedia.org/wiki/Pare,_Kediri#Lokasi

Kamis, 03 Juli 2014

Sejarah dan Budaya

Kecamatan Pare menjadi terkenal di seluruh dunia karena di sinilah antropolog kaliber dunia, Clifford Geertz - yang saat itu masih menjadi mahasiswa doktoral - melakukan penelitian lapangannya yang kemudian ditulisnya sebagai sebuah buku yang berjudul The Religion of Java. Dalam buku tersebut Geertz menyamarkan Pare dengan nama "Mojokuto". Di Pare, antropolog ini sering berdiskusi dan berkonsultasi dengan Bapak S. Sunuprawiro (alm), waktu itu menjadi wartawan Jawa Pos. Pak Sunu merupakan salah satu narasumber yang membantu antropolog tersebut dalam menyelesaikan bukunya.
Pare termasuk kota lama. Ini terbukti dari keberadaan dua candi tidak jauh dari pusat kota, yakni Candi Surowono dan Candi Tegowangi, serta keberadaan patung "Budo" yang berada tepat di pusat kota. Ketiga peninggalan ini membuktikan bahwa Pare telah lahir ratusan tahun lalu. Dahulu di Pare terdapat jalur kereta api dari Kediri ke Jombang, tetapi sekarang hanya tersisa relnya saja. Hanya sampai sekarang belum diketahui dengan pasti kapan kota Pare berdiri dan siapa pendirinya.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pare,_Kediri#Sejarah_dan_Budaya